
Ini tentang mu, bu..
Berawal dari takdir Allah yang menjodohkan aku berpuluh-puluh tahun sebelum ia meniupkan roh ku kedalam rahim mu, engkaulah wanita mulia itu, yang dipilihkan Allah sebagai malaikatku di dunia yang sarat fatamorgana ini.
Kebahagiaanmu menerimaku sebagai amanah dari Robbmu itu, telah menyirnakan segala rasa yang sungguh, hanya dari golonganmu sajalah yang sanggup menanggungnya. Di tiga bulan pertama itu, engkau merasakan mual, tidak enak minum, tidurpun tak nyenyak bahkan acapkali engkau terjaga dalam tidur malammu yang membuat pertahanan tubuhmu pun ikut tumbang. Tapi tidak sedikitpun terdengar keluhan dibibirmu.
Setiap saat, engkau memaksakan diri untuk menguatkan tubuhmu, kendatipun engkau kerap susah menelan makanan dan minuman yang terbilang seadanya saat itu, namun engkau tetap berupaya yang terbaik, “ini demi pertumbuhan anak yang tengah kukandung”, begitu gumammu dalam hati. Hati yang menjadi perantara antara aku, engkau dan Sang Robb.
Kudengar cerita orang, bahwa engkaupun bukan hanya menyelesaikan pekerjaanmu sebagai seorang istri, namun engkau juga ikut membantu pemenuhan kebutuhan hidup kita. Hidup yang telah di gariskan oleh Sang Robb, yang pasti begitu sulit engkau lalui saat – saat itu. Sungguh, hanya jiwa-jiwa tegar sepertimu lah yang sanggup melaluinya dengan besar hati. Engkau jalani kehidupan ini dengan keyakinan bahwa Allah selalu ada bersamamu, bahwa selama matahari masih terbit dari timur, pasti kan ada rezki yang Dia sediakan untuk hamba-hamba-Nya.
Waktu terus berlalu sembari tubuhmu pun terus merasakan sakit yang tak tertahan ketika usia kehamilanmu memasuki bulan terakhir. Ya, kini engkaupun bukan hanya merasakan sakit kala mengandung, namun engkau harus merasakan sakit yang tak terperi saat engkau berjuang melahirkanku kedunia ini. Engkau berjuang sekuat kemampuanmu, tak menghiraukan keselamatanmu, bahkan engkaupun tak gentar memilih kematian asalkan engkau mampu mempersembahkan kehidupan buatku, anak yang engkau kandung. Sakit yang tak tertahankan di sekujur tubuhmu, dera nafasmu pun tak lagi normal, entah sudah berapa kali hentakkan yang engkau lakukan demi mendorongku agar selamat menghirup udara dunia fana ini.
Sesaat kemudian senyummu pun merekah, tatkala engkau mendengar suara tangis memekik yang keluar dari mulutku kala itu. Rasa sakit bersahabatkan maut tadipun sirna seketika itu, dengan tatapan lembut engkau cium keningku. Dan tiada engkau sadari bahwa butir-butir bening mengalir deras dari sudut-sudut matamu. Engkau lantunkan rasa syukurmu atas keselamatanku, dengan penuh harap kau bisikkan doa untukku, agar kelak aku tumbuh menjadi seorang anak yang berbakti kepada orang tua. Kau berikan segala yang terbaik untukku di tengah keterbatasan materimu, engkau penuhi kewajiban yang seharusnya tak engkau lakukan seorang diri. Engkaupun memberikanku pendidikan terbaik, agar kelak aku menjadi insan yang berguna, dan dengan bekal pendidikan itulah engkau mengenalkanku pada Sang Robb.
Namun apa balasan yang kuberikan padamu, bu ?











