hari kelima liburan, list selanjutnya adalah Geurute, awalnya sih bukan berencana ke Geurute, tapi aku sangat ingin berkunjung ke lamno, tapi ocek mengatakan kalo keinginanku untuk kesana itu gak wajar :(, karena setau dia lamno itu biasa-biasa saja, tapi kalo bersikeras kalo dilamno itu biasa-biasa saja, kalo Geurute mungkin bisa dimaklumi, walaupun dia sendiri belum pernah kesana :[. Baiklah, akhirnya Geurute jadi pilihan, tapi kali ini perjalanan tidak hanya dilakukan berdua dengan ocek, karena dia mengaku awam dengan lokasi ini. akhirnya dia mengusulkan untuk mengajak bang mulya, salah satu saudaranya yang tinggal disana. beruntung bang mulya lagi gak ada dinas waktu itu.
road to GeuruteGeurute adalah sebuah daerah ketinggian yang letaknya antara Banda Aceh dengan Kecamatan Lamno, Aceh Jaya. 
Menurut Bang Mulya sih view sunset terbagus ya dilihat dari puncak geurute ini. Kondisi jalan menuju kesana cukup memakan waktu, sekitar 2-3 jam dari banda aceh. makanya waktu itu kami berangkat pagi. tapi jalannya luar biasa bagus, hanya saja ada beberapa titik jalan yang masih jelek, itupun karena masih dalam kondisi pembaharuan akses, bang mulya bilang sebenarnya jalannya sudah siap pakai, tapi masyarakat memblokir jalannya karena mungkin masih ada sengketa pembebasan tanah. Melihat kondisi jalan yang menaiki satu gunung ke gunung lainnya, naik, turu, berkelok dan terjal, maka pantaslah mungkin kalo ini sangat riskan jika kami tetap bersikeukeuh untuk menjalaninya berdua saja dengan ocek. apalagi aku tidak bisa mengandalkan kemampuan berkendara ocek, yang jika membelokkan stang motor itu harus 45 derajat. bisa-bisa nasib kami berakhir di laut lepas :((.
***

Menurut Bang Mulya sih view sunset terbagus ya dilihat dari puncak geurute ini. Kondisi jalan menuju kesana cukup memakan waktu, sekitar 2-3 jam dari banda aceh. makanya waktu itu kami berangkat pagi. tapi jalannya luar biasa bagus, hanya saja ada beberapa titik jalan yang masih jelek, itupun karena masih dalam kondisi pembaharuan akses, bang mulya bilang sebenarnya jalannya sudah siap pakai, tapi masyarakat memblokir jalannya karena mungkin masih ada sengketa pembebasan tanah. Melihat kondisi jalan yang menaiki satu gunung ke gunung lainnya, naik, turu, berkelok dan terjal, maka pantaslah mungkin kalo ini sangat riskan jika kami tetap bersikeukeuh untuk menjalaninya berdua saja dengan ocek. apalagi aku tidak bisa mengandalkan kemampuan berkendara ocek, yang jika membelokkan stang motor itu harus 45 derajat. bisa-bisa nasib kami berakhir di laut lepas :((.***
benar saja, pemandangan geurute membuat saya benar-benar tersepona, eh terpesona :D. perjalanan yang sempat memacu adrenalin kami (aku dan ocek) ini *gimana enggak, wong jalanan kepuncak geurute ini tikungannya bener-bener taja, kalo dipandingkan brastagi dan parapat sih belum ada apa-apanya, belum lagi ukuran jalannya yang pas-pasan menurutku (walaupun ini pasti sudah diperhitungkan dinas perhubungan), tapi tetap aja deg-degan, kalau salah stir, bisa-bisa babalas ke jurang :(( *naudzubillah. Akhirnya setelah tiba di puncak geurute, hilanglah segala cemas yang baru kami rasakan tadi, hehe..
