Senin, 07 Maret 2011

I Luv u, mom..



Ini tentang mu, bu..
Berawal dari takdir Allah yang menjodohkan aku berpuluh-puluh tahun sebelum ia meniupkan roh ku kedalam rahim mu, engkaulah wanita mulia itu, yang dipilihkan Allah sebagai malaikatku di dunia yang sarat fatamorgana ini.

Kebahagiaanmu menerimaku sebagai amanah dari Robbmu itu, telah menyirnakan segala rasa yang sungguh, hanya dari golonganmu sajalah yang sanggup menanggungnya. Di tiga bulan pertama itu, engkau merasakan mual, tidak enak minum, tidurpun tak nyenyak bahkan acapkali engkau terjaga dalam tidur malammu yang membuat pertahanan tubuhmu pun ikut tumbang. Tapi tidak sedikitpun terdengar keluhan dibibirmu.

Setiap saat, engkau memaksakan diri untuk menguatkan tubuhmu, kendatipun engkau kerap susah menelan makanan dan minuman yang terbilang seadanya saat itu, namun engkau tetap berupaya yang terbaik, “ini demi pertumbuhan anak yang tengah kukandung”, begitu gumammu dalam hati. Hati yang menjadi perantara antara aku, engkau dan Sang Robb.

Kudengar cerita orang, bahwa engkaupun bukan hanya menyelesaikan pekerjaanmu sebagai seorang istri, namun engkau juga ikut membantu pemenuhan kebutuhan hidup kita. Hidup yang telah di gariskan oleh Sang Robb, yang pasti begitu sulit engkau lalui saat – saat itu. Sungguh, hanya jiwa-jiwa tegar sepertimu lah yang sanggup melaluinya dengan besar hati. Engkau jalani kehidupan ini dengan keyakinan bahwa Allah selalu ada bersamamu, bahwa selama matahari masih terbit dari timur, pasti kan ada rezki yang Dia sediakan untuk hamba-hamba-Nya.

Waktu terus berlalu sembari tubuhmu pun terus merasakan sakit yang tak tertahan ketika usia kehamilanmu memasuki bulan terakhir. Ya, kini engkaupun bukan hanya merasakan sakit kala mengandung, namun engkau harus merasakan sakit yang tak terperi saat engkau berjuang melahirkanku kedunia ini. Engkau berjuang sekuat kemampuanmu, tak menghiraukan keselamatanmu, bahkan engkaupun tak gentar memilih kematian asalkan engkau mampu mempersembahkan kehidupan buatku, anak yang engkau kandung. Sakit yang tak tertahankan di sekujur tubuhmu, dera nafasmu pun tak lagi normal, entah sudah berapa kali hentakkan yang engkau lakukan demi mendorongku agar selamat menghirup udara dunia fana ini.

Sesaat kemudian senyummu pun merekah, tatkala engkau mendengar suara tangis memekik yang keluar dari mulutku kala itu. Rasa sakit bersahabatkan maut tadipun sirna seketika itu, dengan tatapan lembut engkau cium keningku. Dan tiada engkau sadari bahwa butir-butir bening mengalir deras dari sudut-sudut matamu. Engkau lantunkan rasa syukurmu atas keselamatanku, dengan penuh harap kau bisikkan doa untukku, agar kelak aku tumbuh menjadi seorang anak yang berbakti kepada orang tua. Kau berikan segala yang terbaik untukku di tengah keterbatasan materimu, engkau penuhi kewajiban yang seharusnya tak engkau lakukan seorang diri. Engkaupun memberikanku pendidikan terbaik, agar kelak aku menjadi insan yang berguna, dan dengan bekal pendidikan itulah engkau mengenalkanku pada Sang Robb.

Namun apa balasan yang kuberikan padamu, bu ?


Nada-nada yang indah selalu terurai darinya
Tangisan nakal dari bibirku, takkan jadi deritanya
Tangan halus dan suci, tlah mengangkat tubuh ini
Jiwa raga dan seluruh hidup
Rela dia berikan..
-melly, bunda-

Atas semua yang kulakukan, engkau tak merasakan dendam sedikitpun padaku. Setiap salahku dibalasnya dengan senyum dan tangis dalam doa dan munajad kepada-Nya.

Maafkan aku, bu..

Sering sekali kata-kataku mengurai luka dihatimu, begitu juga sikapku yang jauh dari mulia ini, acap kali membuatmu meneteskan air mata. Perbuatanku seolah mengesankan bahwa engkau harus sempurna, padahal engkaupun hanyalah manusia biasa, yang memiliki hati yang rentan terluka. Hingga saat ini, aku belum bisa menjadi anak yang sempurna bagimu, maka tidaklah sepantasnya terpikir olehku untuk menuntut kesempurnaan itu darimu. Jika tidak, sungguh betapa nistanya diriku ini.


Ingin ku dekap dan menangis dipangkuanmu,
sampai aku tertidur bagai masa kecil dulu
lalu doa-doa baluri sekujur tubuhku
dengan apa ku membalasnya, ibu ?
-iwan false, ibu-

Ketahuilah, bu..

Bahwa engkau telah berperan besar dalam hidupku. Tapi aku tak pernah tahu betapa ‘keras’nya kerja yang telah engkau lakukan untuk aku, anakmu. Sampai aku sendiri sebagai anak dapat merasakan apa yang engkau rasakan.

Ada hal pedih yang harusnya aku rasakan, “pernahkah aku menjadi anak yang berbakti?”

Kutanyakan kepada diri “mengapa tangan ibu tak sehalus tanganku?”. Dan engkau tak pernah sedikitpun memaksakan bahwa tanganku seharusnya sama dengan tanganmu.

Kulihat tubuhmu kini semakin mengecil tergilas waktu. Belum lagi rambut mu yang kian memutih yang memastikan bahwa tubuhmu pun tak lagi sekuat dahulu, semakin teriris aku menyadari semua hal itu. Lalu kurasakan pedih dalam benakku, kelopak mataku menghangat ingin menagis dan tak bisa berkata-kata.

Seperti udara, kasih yang engkau berikan.
Tak mampu ku membalasnya, ibu..

Terlalu banyak hutangku kepadamu, bu. Hutang yang takkan pernah sanggup aku membayarnya walau seandainya dunia dan seisinya ini adalah milikku. Hutang-hutang atas kerja kerasmu, hutang-hutang atas kegigihanmu. Hutang-hutang atas keikhlasanmu, hutang – hutang atas keterjagaanmu, hutang- hutang atas setiap untaian doa dalam munajad yang engkau panjatkan kapadaNya. Semua engkau lakukan tanpa pamrih.

Jika tidak mengikuti nasihatmu, akan berada dimana aku hari ini? Aku takkan tumbuh dewasa dan mengerti hal-hal baik dalam hidupku. Jika engkau tak membimbingku, walau dengan sedikit kemarahanmu, aku takkan mampu memahami indahnya kehidupan, dan tak pula mengerti arti sebuah bakti.

Jelaskan padaku, bu..

“Pintu surga yang manakah yang dapat kulalui sekiranya saat ini Allah memanggilku sedangkan engkau dalam keadaan tidak ridho kepadaku ? Celakalah aku, bu. Jika dibawah telapak kakimu tak kutemukan surga itu.."


Robbighfir lii wa li waalidayya warhamhumaa kamaa robbayaanii shoghiiroo..


Wahai ibu, aku mencintaimu karena Allah..

***

medan, 7 maret 2011, 23:50 wib
menjelang naum malam ini



9 komentar:

  1. subhanallah ukhti,.
    ane merinding bc postingan ne,.
    ane jg teringat ma ibu ane yg gee d medan,.
    pa gee skrg, kmi sdg d ksh cobaan ma allah swt.
    ane teringat saat beliau sng tiasa mengurus ane d kala ane ge sakit.
    ane jg kgn saat" ane menemani beliau d dapur,.
    walaupun ane hny liatin beliau jha,.
    tp beliau sng bgt.
    kgn ma masakan beliau, senyum beliau, hingga mungkin kgn ma obrolan" beliau.,,

    BalasHapus
  2. ya, begitulah seorang ibu..

    "hanya memberi, tak harap kembali, bagai sang surya menyinari dunia.."

    BalasHapus
  3. Salam kenal tina....postingan mu telah buat bunda jd sedih..krn mengingatkan ku kpd almh.ibu yg sdh 11 th kembali kpd-NYA...
    tina makasih ya udh berkunjung ..skrng bunda follow ya...tp jgn lupa follow balik ya....

    BalasHapus
  4. kunjungan balik. Salam kenal.
    wah, tulisannya..bagus. thanks udah difollow. Aku follow balik ya, sob no.6. salam

    BalasHapus
  5. @bunda loving : maaf ya bund, jadi sediih. :(

    Semoga Almh diterima pd tempat terbaik disisi-Nya ya bund.. amiin..:)

    btw bund, tika bukan tina, hehe..


    @wits : makasiih ya..
    salam ukhuwah.. :)

    BalasHapus
  6. ia ukhti,.
    "hanya memberi, tak harap kembali, bagai sang surya menyinari dunia.."

    nhe ukhti gee nyanyi or pa(?)
    ehehehehehe

    ane pgn bgt bahagiain ibu dan ayah ane.
    tp mgkn skrg ane hny bs kuliah jha.

    BalasHapus
  7. berikan saja yang terbaik buat mereka, meskipun sedang kuliah,

    sepertinya prestasi yang baik sudah cukup membuat mereka bahagia

    setidaknya sebagai penawar rasa lelah mereka membanting tulang demi pendidikan anaknya..(*menasehati diri sendiri)

    BalasHapus
  8. Ibu....oh Ibu cintamu tak akan terbalas.
    Dikau abadi dalam jiwa dan do'a kami. Luv u Mom
    Salam kenal :) Semoga silaturrahim ini membawa barokah....

    BalasHapus
  9. @mba yunda : salam kenal juga mba.. :)

    BalasHapus