Rabu, 20 April 2011

Episode gak penting : Maafkan saya pak polisi..

sore itu, setelah letih berkeliling-keliling menjadi ojek untuk kakakku, tak sengaja aku tertidur di siang hari yang tidak bolong itu, hehe. aku terlonjak kaget melihat jam dikamar yang menunjukkan pukul 3 sore. sontak mataku yang tadinya hanya ketap - ketip langsung terbelalak.

"haahhh..!! *pura2 terkejut, padahal alarm hape udah bunyi setengah  jam yang lalu*

"gawwwwaaaatt..! udah jam 3, matilah hai, telaaaaat..!"  aku langsung melompat dari tempat tidurku tanpa sempat lagi mikirin berapa luas lapangan merdeka jika tiap panjang sisinya dikali 2.456 m, bagaimana caranya membuat terowongan rahasia antara rumah dan kampusku sehingga aku tidak perlu lagi terjebak macet di ibukota, hahha atau kenapa pula dimegahnya bangunan gedung baru kampusku, belum ada dibangun mushola? ah, sungguh aku tidak sempat memikirkan jawaban-jawaban  itu. mungkin lain kali lah akan ku cari jawabannya, berhubung saat itu aku sudah hampir telat pergi ke tempat kerjaanku. hehe..

-oOo-

Beberapa saat kemudian dengan gaya sok buru - buru aku keluar dari rumah dan langsung pamitan dengan ibuku, beliau hanya mengingatkanku untuk berhati - hati saat berkenderaan, mungkin beliau tahu bahwa aku memang kelihatan sangat terburu - buru (lebih tepatnya sok buru-buru, hehe).

"iya mak, pergi dulu ya, assalamualaikum"

disaat sok buru -buru gini, mencari jalan alternative dengan jarak terpendek adalah pilihan yang lumayan menjanjikan untuk menghemat waktu. benar saja gak sampe setengah jam aku sudah sampai di seputaran jln serdang.

 *Cccciiiiiiiittttt........tttt.......

rem cakramku mulai mendessitt sangat kencang, ternyata aku tidak berhasil melalui lampu kuning yang ada dipersimpangan jalan didepan mesjid joeang '45 itu,  padahal lampu kuning itu artinya jalan semakin pelan kan ya?? haduh, sungguh perbuatanku ini memang tidak pantas di contoh, hehe.
Alhasil, akhirnya aku berada tepat didepan garis batas lampu lalu lintas itu, karena kurasa saat itu posisiku pun tidak menganggu kelancaran kenderaan yang berada di persimpangan laiinya, maka aku yang saat itu sedang sok buru -buru juga akhirnya dihadapkan dengan dilema besar apakah aku harus memundurkan motorku lagi atau tetap pada posisiku yang sudah pewe itu (haha, betapa lebainya kata-kataku).
Akhirnya tanpa diskusi dan bertanya pada pengendara lainnya kuputuskan untuk tetap berada diposisiku yang saat itu berada didepan garis lalu lintas, lagi pula posisi didepan garis sudah penuh dengan angkot dan teman-teman sejenisnya. hah, betapa mereka pun sepertinya sudah pewe dengan posisi siap pacunya didepan garis itu, sehingga rasanya enggan untuk berlapang - lapang dalam majlis (he??).
Dengan sabar dan hati yang lapang kutunggu detik - detik lampu merah itu berjalan mundur. aku pun terus berkonsentrasi melihat kearah kiri, lebih tepatnya kearah lampu lalu lintas tiga warna itu..


5

4

3

saat berada di angka  3, aku pun mulai  bersiap - siap mleaju karena aku yakin- seyakin yakinnya bahwa di simpang lainnya pasti lampu sudah menyala merah. dengan hati riang  ku tarik gas sepeda motorku, namun ketika itu juga ku dengar suara orang yang sangat asing berteriak - teriak.

hoiii.. hoiiii...


"hah? siapa juga yang berteriak - teriak ditengah jalan begini" begitu pikirku dalam hati saat itu. awalnya teriakan itu tidak kupedulikan hingga akhirnya teriakan itu semakin kencang dan kencang yang akhirnya berhasil menarik perhatianku untuk menoleh kearah kanan meskipun sambil mulai melaju dengan motorku.

Ap..app..appaaaa??

oh, betapa kagetnya aku, ternyata oh ternyata suara lelaki yang berteriak itu adalah suara seorang polisi lalu lintas yang sedari tadi berteriak memanggilku. Dan sepertinya beliau telah berjalan kearahku sejak tadi, tapi aku memang tak menyadari hal itu, sebab dari tadi pandanganku terus tertumpu kearah kiri lampu lalu lintas, sedangkan beliau datang dari arah kanan belakangku. Jadi menurut dugaanku, beliau baru saja hendak 'menyapaku' justru ketika motorku mulai bergerak maju. :tuing2:

*ciiittt........ lagi - lagi suara remku mendesssit..

Akhirnya setelah kulihat beliau memangil - manggilku, akupun menghentikan motorku, kulihat beliau menggeleng-gelengkan kepalanya kearahku sambil mengacakkan pinggang. dengan wajah innocent kubuka kaca helmku dan kuangkat bahuku seolah sebagai bahasa isyarat antara aku dan bapak polisi "bagaimana pak??" 
tapi kondisi sepertinya tak memungkinkan aku menghentikan motorku ditengah jalan, karena lampu sudah kembali hijau dan itu artinya kenderaan yang tadi rame -rame ngantri bersamaku harus jalan.

"ya sudaah..ya sudaaahhh..!! pergilah sanaa..!" dengan nada berat beliau menyuruhku melanjutkan perjalanan lagi. oh sungguh, maapkan saya pak polisi, saya kan benar -benar tidak melihat bapak tadi, hehe.

wah, aku lupa kalau aku kan harus buru - buru sampai ketempat kerja, sambil senyum -senyum sendiri sepanjang perjalanan, ku pacu lagi kuda besiku. hehe



catatan tidak penting 
-salam pena, ticka.y-

Minggu, 10 April 2011

Recharge the spirit..!

Rabu, 30 maret 2011


Pagi itu aku ingat bahwa dia, putri alias ocek, akan menjalani sebuah prosesi sakral bagi mereka yang mengaku - ngaku sebagai mahasiswa, yaitu yudisium. memang sudah sejak seminggu sebelumnya atau lebih malah - entahlah aku sendiri sampai lupa -, sangkingkan getolnya ia mempublikasikan berita itu kepadaku yang seyogianya bernasib sama sebagai mahasiswi tingkat akhir. Mungkin suatu kebahagiaan tersendiri baginya karena berhasil membuat beban bathinku bertambah saat mengetahui ternyata gerakannya lebih cepat dariku dalam menuntaskan maklumat dari dosen pengeksekusi tugas akhir ini. *huaa, curhaat..*


Segeralah pagi itu, pagi dimana prosesi itu berlangsung, sebagai sahabat yang baik, yang rajin mencuci dan menggosok dan sedang belajar memasak ini - untuk keperluan rumah tangga di masa depan, hahaha-. maka aku seperti biasa tanpa dipaksa siapapun mengirimkan sms yang dengan besar hati ini mengucapkan selamaat padanya.


"euy, cek. selamat yaak"


setelah  kupijit tombol sent, maka terkirimlah sms singkat tadi.


*5 menit, 10 menit, bermenit-menit selanjutnya*


hah apa gerangan yang terjadi? bahkan sahabat yang nampaknya tengah melambung tinggi bahagianya ini seolah tak menggubris sms ku, buktinya ia tak membalas smsku, setidaknya begitulah pikirku yang telah berhasil dibumbui oleh setan dan para serdadunya yang pantang menyerah itu. sedih.


Tapi untunglah, serangan setan itu tak berlama-lama mendiami hatiku yang lembut ini *memuji diri sendiri, jangan ditiru, hehe*. bagian hatiku yang lain seolah mengadakan pembelaan kepada ocek yang memang tidak bersalah sebab ia sepertinya kehabisan pulsa itu. ya, pasti benar begitu adanya, ocek memang terbilang sering dirundung pilu karena kehabisan pulsa, hahaha *maap cek, jati dirimu jadi terbongkar*.


Tak berselang lama, saat itu juga ba'da sholat dzuhur dan belum sempat makan siang, tiba-tiba sms dari hape ku mengalun syahdu, kurogo saku tas ransel coklat kesayanganku, ternyata sebuah sms dari no sok kenal pun mampir di inboxku tanpa permisi (he??).


"oi tik, ni guhe,, Putri Liyoni Suci, S.Ked. Lo kapan?? hehe"


Plaakkk ::oceeeeeek..! ::


Tttteee-teeegaaanya.. sungguh teganya.. *hahha, lebai lagi*


Benarlah, sms itu memang dikirim dari orang yang berpribadi tega dan dikirim dengan maksud untuk memecut bathinku yang memang  sudah beberapa hari belakangan ini sangat lesu akibat draft skripsi yang masih jalan ditempat ini, sms yang sempat membuat ubun-ubunku berasap dan hatiku gundah gulana jadinya. dan benar saja dia pasti tertawa menang layaknya penjajah yang berhasil menyita harta rakyat jelata. sungguh kejahatan berencana. *hehe*


***

Beberapa hari kemudian, dia -si sarjana yang mengaku - ngaku telah menyelesaikan kuliahnya itu- pun akhirnya pulang kekampung halamannya yang juga kampung halamanku tentunya. Masih dengan rasa tidak bersalahnya ia kemudian datang kerumahku dengan menunjukkan foto yudisiumnya. oh tidaaak, ini orang memang perlu dibantai. tega sekali dia menyerang titik lemahku. hihi.


"tik, ini foto yudisiumku, kereenkaan??"

"hahhaa, lu kapaan??"

"kapaaan???"

STOOOPPP..!!

hah, aku tau pasti dia telah merencanakan kejahatan yang lainnya dengan bermaksud memajang fotonya yang sangat tidak seberapa itu di kamarku.


"hahh...! apa-apaan ini" kataku yang daritadi udah ogah-ogahan melihat fotonya yang lagi-lagi memang sangat tidak seberapa itu.


"jangan kau tempel itu disini yaa.." begitu lanjutku.


"hahah, ini sebagai semangat untuk mu kawaan..!"


aku hanya tertunduk lesu, sambil mengiba kepadanya untuk tak lagi menunjukkan foto - foto itu padaku. hehhe.

"Ayoooklah, apalagi yang kau tunggu kawaan..! selesaikaan teroos..!"

"buat dosenmu tak bisa tidoor..!" 



"kapaaan lagiii??? hee, kapaaaan??!!"  begitu katanya padaku yang telah ditinggal merantau oleh semangat.


-oOo-


Minggu, 10 April 2011

"you've open my heart, i was always thingking that love was wrong...."  

hah..! aku tentu bukan sedang menyanyi saat ini, penggalan kata-kata itu adalah suara yang kudengar dari nada dering handphoneku yang sudah mulai butut ini, hehe. sebuah panggilan yang datang di ahad pagi yang mendung, yang pastinya lah sangat enak kupakai untuk bermalas-malasan ini, tapi oh panggilan ini mau tak mau harus kuangkat sepertinya.

"Petir is calling.."

"Assalamualaikum.." dengan gaya penuh semangaat layaknya para pejuang muda kita di era 40'an itu suara dari seberang telp menyaut saat ku pijit timbol menjawab di hape ku.

"wa'alaikumuussalam, da pe tur??"

telp dari guntur ternyata, aku memang sengaja menyimpan namanya di hp ku dengan sapaan "Petir" hehehe, tapi setidaknya aku masih sedikit lebih berbaik hati *sok membela diri* daripada temannku yang lainnya yang memanggil dirinya "gluduk", karena ia memang dilimpahkan rahmat dari Allah untuk tak fasih mengucapkan "eerrrr", maka mereka -yang mengaku-ngaku sahabat- itu menamainya dengan seenak perutnya saja dengan" gluduk", karena tidak terdapat huruf "R (baca : err)" pada kata tesebut, meskipun sapaan itu tentu tidak berbeda makna dari asal namanya semula "GUNTUR", hehe.

"tik, doa'in aku yaah " dengan logat kemalayu-melayuaan. padahal sebenarnya ia adalah orang batak tulen, tapi entahhlah, mungkin semenjak berguru di pekan baru ia telah terkontaminasi dengan logat pesisir. sungguh ironis *mulai mendramatisir, hehe*

"doain apa, tur???"

" ya doakanlah sahabatmu ini, besok Insya Allah mau sidang meja hijau"


"Appp apppp Apppppaaaa???" aku shock.


hah, apa-apaan ini, minggu pagi yang mendung ini, minggu pagi yang aku gak ada kerjaan ini (padahal banyak, dasarnya lagi malas, haha), minggu pagi yang betapa nikmatnya untuk malas-malasan ini, oh, harus rusak oleh kabar dari sahabatku yang tengah menuntut ilmu di negeri antah berantah sana. kaget bukan kepalang aku mendengan kabar darimu, sob. kau yang bahkan dulu kami (aku, sisska dan dini) dengan lancang dan tak tahu dirinya memvonismu sebagai satu yang akan paling lama menyelesaikan skripsi nanti.

Tappii..tapiii..


oh tidaaak, lihatlah sekarang, kau bahkan jauh lebih cepat menyelesaikannya dari kami, sob. kau - yang 4 tahun yang lalu, saat kita sama - sama berjuang pada seleksi penerimaan mahasiswa baru, lebih sering tertidur saat menyelesaikan soal - soal try out mu. kau juga yang selalu tidak pernah lulus pada perguruan tinggi yang kau pilih setiap kali kau ikuti try out. (loh, kok jadi membongkar aib mu, haduh maap sob :p). Lihatlaaah.. lihatlah sekarang kau meminta doaku untuk sidang meja hijau yang akan berlangsung besook. bukankah itu berarti tinggal selangkah lagi kaupun juga akan menyandang gelar itu sob. huaaaa hiks hiks (mulai terbakar cemburu).

***

Baiklah, *mengencangkan ikat kepala* sepertinya ini cukup menjadi amunisiku untuk bergerak lesat menyelesaikan tigas-tugas dan amanah ini. oh demi masa depanku, dan demi emak dirumah yang menunggu keberhasilanku. Semangat itu terbakar lagi setiap kali ku ingat guratan diwajah emak, juga libasan-libasan semangat dari kalian, sobat. tunggulah aku. akupun akan menyelesaikannya, sebaik kalian meyelesaikan amanah itu.


Ganbatte kudasai..!!




Minggu, 10 April 2011

Terbakar semangat dari para sesepuh
 -salam pena, ticka.y-




Jumat, 25 Maret 2011

Tempat ini dan dua siluet

" Semua mengalir, tak seorangpun dapat melahan lajunya. Nafas, hidup, cinta dan segalanya, berlalu dengan pena yang terus menari diatas kertas kehidupan, yaitu "TAKDIR". Sungguh, benar-benar skenario sempurna dari Allah Swt"


***


 
Baiklah, malam ini tak banyak cerita yang akan ku ungkap kecuali tentang tempat ini, tempat yang sejak pukul 15.00 wib ini telah menyita banyak energiku, yaa.. aku memang kembali lagi ketempat ini, tapi bukan sebagai pengunjung. Sedikit berbeda dengan saat itu, hari ini aku memutuskan untuk bergabung dengan sebuah stand dari sebuah Badan Penelitian dan Pengembangan.

Sore tadi, dengan langkah sedikit ragu aku melangkah kembali ketempat ini, salah satu tempat yang menjadi pusat keramaian kota Medan saat ini, maklum saja tempat ini memang hanya dibuka setiap satu tahun sekali saja. Sebuah tempat dimana pagelaran seni dan kebudayaan di tampilkan. Sesaat sebelum aku memijakkan kembali kakiku di tempat ini, awan hitam memang sudah mulai tampak berarak menutupi langit sore itu. Ah, tampaknya memang langit sore ini tahu bahwa aku memang sedang nervous, hehe..


Tidak jauh dari yang kuharapkan sejak awal aku menerima side job ini, Alhamdulillah banyak sekali pengalaman yang didapat, ditambah pengetahuan dan yang tak kalah penting adalah persaudaraan.  Melalui sarana ini, aku juga dapat berlatih bagaimana menbangun komunikasi dan interaksi dengan banyak orang, menyenangkan bukan ? dapat berbagi pengalaman dan pengetahuan dengan orang-orang yang berbeda.

***

Saat waktu maghrib menjelang, akupun tak kalah gelisah. Pasalnya rekan kerjaku tengah izin permisi sebentar tadinya, namun hingga maghrib tiba iapun tak kunjung kembali. Hingga kegelisahan yang tampak diwajahku mengundang perhatian seorang wanita paruh baya, ia kemudian mendatangiku dengan seulas senyum sembari menyodorkan tangannya, "Assalamualaikum, kenalkaaaan..  hasmi".

"Wa'alaikumussalam wr, saya tika, bu"

"belum sholat, toh? kita bareng aja yuk". begitu tawarnya kepadaku.

"iya, bu. tika lagi menunggu teman biar bisa gantian, baru tika kemudian wudhu."

***

diperjalanan menuju mushola kami berbincang - bincang sedikit, "saya baru hari ini dapet giliran kerja disini"  ungkap beliau membuka perbincangan.


"wah, sama duunk bu, saya juga baru dapet giliran hari ini"

"berarti kita jodoh ya bu" 


"wah, iya ya tik"

 akhirnya kami sama-sama tersenyum.
 
 "ibu kaget sekali awalnya lihat kamu di stand ini, ternyata ada juga akhwat di balitbang". begitu kata beliau sambil tersenyum.

"ah, ibu " *sambil cengar-cengir*

"tapi saya masih kuliah kok bu, bukan pegawai disini". 

"saya malah kaget lihat ibu, dalem hati tadi juga mikirnya wah ternyata saya tidak 'sendirian', ada temen dengan stylish yang sama dengan saya ternyata ditempat seperti ini". dan kemudian kami berduapun sama-sama tertawa.


begitulah bu hasmi, sosok ummahat yang ramah sekali, beliau bekerja di Dinas Pemberdayaan perempuan dan anak, berbincang dengannya membuatku merasa nyaman. Alhamdulillah dari pertemuan kami yang singkat itu banyak sekali ilmu yang ku dapat melalui nasihat-nasihatnya.


***

Ah, tempat ini..

Ada perasaan tak asing yang ku rasa disini. entahlah, kepingan cerita masa lalu seperti tertinggal disini. disetiap sudut tempat ini seperti bersenandung lirih kisah perjalanan itu. Rasanya seperti baru kemarin saja aku berada ditempat ini. jelas sekali aku lihat  dua siluet itu berada di bangku-bangku taman. bercerita panjang lebar, sesekali dengan airmata menitis dan sesekali dengan senyum terkembang. saat ku dekat ke arahnya, dua siluet itu pun semakin samar menghilang. tak hanya di bangku taman itu, kulihat dua siluet itu kembali berada di ujung jalan itu, yang satu sibuk bercerita dan yang satu menyimak dengan seksama. kali ini kudekati mereka dengan langkah yang sedikit lebih cepat, namun tak jauh berbeda, siluet itupun kembali memudar.

aku dan tempat ini, ternyata masih meninggalkan jejak cerita dulu, cerita yang belum  selesai dan akupun tak mengetahui bagaimana endingnya, biarlah Sang Pembuat Skenario yang menentukan akhirnya, sebab aku hanyalah aktor dalam panggung dunia fana ini. 


 "Tidak ada kekeliruan dalam proses yang tengah dijalani, yang ada hanya pembelajaran - pembelajaran. Tidak juga ada kebetulan, yang ada hanya makna yang belum ditemukan. Tidak ada kesedihan, yang ada hanya jiwa yang sedang bertumbuh.."




dalam lelah malam ini, 25 maret 2011


Senin, 21 Maret 2011

kutitip rindu pada sang fajar

Category : Cerpen
Oleh : Tika Yunita

----------------------------------------------------------------- 




Untuk kesekian kalinya, senja kembali terjaga dari tidurnya, Hanya hening yang ia rasakan disekitarnya. Dari sebalik kamarnya sesekali terdengar riuh suara serangga yang bertasbih memuji kebesaran Tuhannya, seolah tiada henti bersyukur atas limpahan rahmatNya yang turun melalui butiran – butiran bening air langit. Hujan yang sejak maghrib tadi membasahi bumi cinta ini memang baru saja usai, namun tidak demikian dengan perasaan yang saat ini terus mengusik senja hingga ia berulang kali terjaga dalam lelapnya. 

“Benarkah ini rindu ?”
senja bertanya pada hatinya.
 
Hujan malam ini kembali mengingatkan senja pada sebuah cerita dimasa yang lalu. Teringat kembali tentang fajar, seseorang yang telah terbilang tahun menyisakan cinta yang mengalir lembut dalam jiwanya. Sepertinya masa tak mampu menepisnya dalam sanubarinya
***

Sedikit ragu dengan apa yang ia rasakan, senjapun kembali bertanya pada dirinya sendiri, “ah, apa kau tahu tentang ini?”

“banyak c
erita yang kulalui tanpa keberadaanmu disisiku, ada ribuan tetes air mata yang tercurah, tawa yang berderai, bahagia yang membuncah, kecewa yang menusuk, kehilangan yang mengalir, semua berlalu tanpa dirimu..”

Sebenarnya dalam hatinya terbersit harap fajar dapat hadir untuk menemaninya kala itu. Namun sesaat kemudian senja sadar bahwa tatap saja jalan takdir yang harus mereka lalui tidak bisa begitu. Semua mengharuskan keduanya menjalani kehidupan yang berbeda. Senja dengan hari-hari nya sendiri, begitupun dengan fajar. Kendatipun jarak keduanya dekat, tapi terasa begitu jauh seperti berpuluh kilometer. Ia merasa kini fajar berada pada jarak yang tak tergapai kendatipun mereka berada dalam naungan langit yang sama.

Senin, 07 Maret 2011

I Luv u, mom..



Ini tentang mu, bu..
Berawal dari takdir Allah yang menjodohkan aku berpuluh-puluh tahun sebelum ia meniupkan roh ku kedalam rahim mu, engkaulah wanita mulia itu, yang dipilihkan Allah sebagai malaikatku di dunia yang sarat fatamorgana ini.

Kebahagiaanmu menerimaku sebagai amanah dari Robbmu itu, telah menyirnakan segala rasa yang sungguh, hanya dari golonganmu sajalah yang sanggup menanggungnya. Di tiga bulan pertama itu, engkau merasakan mual, tidak enak minum, tidurpun tak nyenyak bahkan acapkali engkau terjaga dalam tidur malammu yang membuat pertahanan tubuhmu pun ikut tumbang. Tapi tidak sedikitpun terdengar keluhan dibibirmu.

Setiap saat, engkau memaksakan diri untuk menguatkan tubuhmu, kendatipun engkau kerap susah menelan makanan dan minuman yang terbilang seadanya saat itu, namun engkau tetap berupaya yang terbaik, “ini demi pertumbuhan anak yang tengah kukandung”, begitu gumammu dalam hati. Hati yang menjadi perantara antara aku, engkau dan Sang Robb.

Kudengar cerita orang, bahwa engkaupun bukan hanya menyelesaikan pekerjaanmu sebagai seorang istri, namun engkau juga ikut membantu pemenuhan kebutuhan hidup kita. Hidup yang telah di gariskan oleh Sang Robb, yang pasti begitu sulit engkau lalui saat – saat itu. Sungguh, hanya jiwa-jiwa tegar sepertimu lah yang sanggup melaluinya dengan besar hati. Engkau jalani kehidupan ini dengan keyakinan bahwa Allah selalu ada bersamamu, bahwa selama matahari masih terbit dari timur, pasti kan ada rezki yang Dia sediakan untuk hamba-hamba-Nya.

Waktu terus berlalu sembari tubuhmu pun terus merasakan sakit yang tak tertahan ketika usia kehamilanmu memasuki bulan terakhir. Ya, kini engkaupun bukan hanya merasakan sakit kala mengandung, namun engkau harus merasakan sakit yang tak terperi saat engkau berjuang melahirkanku kedunia ini. Engkau berjuang sekuat kemampuanmu, tak menghiraukan keselamatanmu, bahkan engkaupun tak gentar memilih kematian asalkan engkau mampu mempersembahkan kehidupan buatku, anak yang engkau kandung. Sakit yang tak tertahankan di sekujur tubuhmu, dera nafasmu pun tak lagi normal, entah sudah berapa kali hentakkan yang engkau lakukan demi mendorongku agar selamat menghirup udara dunia fana ini.

Sesaat kemudian senyummu pun merekah, tatkala engkau mendengar suara tangis memekik yang keluar dari mulutku kala itu. Rasa sakit bersahabatkan maut tadipun sirna seketika itu, dengan tatapan lembut engkau cium keningku. Dan tiada engkau sadari bahwa butir-butir bening mengalir deras dari sudut-sudut matamu. Engkau lantunkan rasa syukurmu atas keselamatanku, dengan penuh harap kau bisikkan doa untukku, agar kelak aku tumbuh menjadi seorang anak yang berbakti kepada orang tua. Kau berikan segala yang terbaik untukku di tengah keterbatasan materimu, engkau penuhi kewajiban yang seharusnya tak engkau lakukan seorang diri. Engkaupun memberikanku pendidikan terbaik, agar kelak aku menjadi insan yang berguna, dan dengan bekal pendidikan itulah engkau mengenalkanku pada Sang Robb.

Namun apa balasan yang kuberikan padamu, bu ?