Category : Cerpen
Oleh : Tika Yunita
-----------------------------------------------------------------
Untuk kesekian kalinya, senja kembali terjaga dari tidurnya, Hanya hening yang ia rasakan disekitarnya. Dari sebalik kamarnya sesekali terdengar riuh suara serangga yang bertasbih memuji kebesaran Tuhannya, seolah tiada henti bersyukur atas limpahan rahmatNya yang turun melalui butiran – butiran bening air langit. Hujan yang sejak maghrib tadi membasahi bumi cinta ini memang baru saja usai, namun tidak demikian dengan perasaan yang saat ini terus mengusik senja hingga ia berulang kali terjaga dalam lelapnya.
“Benarkah ini rindu ?” senja bertanya pada hatinya.
Hujan malam ini kembali mengingatkan senja pada sebuah cerita dimasa yang lalu. Teringat kembali tentang fajar, seseorang yang telah terbilang tahun menyisakan cinta yang mengalir lembut dalam jiwanya. Sepertinya masa tak mampu menepisnya dalam sanubarinya
***
Sedikit ragu dengan apa yang ia rasakan, senjapun kembali bertanya pada dirinya sendiri, “ah, apa kau tahu tentang ini?”
“banyak cerita yang kulalui tanpa keberadaanmu disisiku, ada ribuan tetes air mata yang tercurah, tawa yang berderai, bahagia yang membuncah, kecewa yang menusuk, kehilangan yang mengalir, semua berlalu tanpa dirimu..”
Sebenarnya dalam hatinya terbersit harap fajar dapat hadir untuk menemaninya kala itu. Namun sesaat kemudian senja sadar bahwa tatap saja jalan takdir yang harus mereka lalui tidak bisa begitu. Semua mengharuskan keduanya menjalani kehidupan yang berbeda. Senja dengan hari-hari nya sendiri, begitupun dengan fajar. Kendatipun jarak keduanya dekat, tapi terasa begitu jauh seperti berpuluh kilometer. Ia merasa kini fajar berada pada jarak yang tak tergapai kendatipun mereka berada dalam naungan langit yang sama.