Jumat, 22 Juli 2011

Insya Allah, ada jalan..

Hari ini hanya ingin berbagi sebuah lirik yang saya yakin sudah begitu familiar ditelinga kita semua, lewat senandung merdu Maher Zain, berharap segala penat, lelah dan sesak melebur menjadi sebuah harapan atas janji pasti dari Sang Pemberi kemudahan. Tiap kali mendengar lirik sederhana ini, sungguh hati merasa begitu sejuk, sebab ternyata hanya Allah yang selalu setia bersama kita dalam setiap keadaan, disaat orang lain datang dan pergi dari sisi kita.


(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram. (QS. 13:28)


Yakinlah bahwa setiap ujian yang Allah berikan kepada kita, tidak lain karena Allah ingin menjadikan kita pribadi yang kuat dan indah. Dia Maha Tahu apa yang terbaik untuk kita, maka jangan pernah ragu untuk menjalani peran apapun dalam skenario sempurna milikNya. Sebab bukankah setiap orang memiliki peran masing - masing dalam setiap hidupnya ? Tidak peduli seberapa besar atau kecil peran itu, yang terpenting adalah menjalankan peran tersebut dengan sebaik - baik keikhlasan. Yakinlah, bahwa tidak ada beban tanpa pundak, Allah lah yang Maha Mengetahui batas kemampuan kita dalam memikul beban, maka jika ujian yang dijalani terasa begitu berat, bukankah seharusnya kita bersyukur bahwa ternyata Allah hendak memberikan kita sebuah pundak yang begitu kuat.

-oOo-



lyric : Maher Zain - Insya Allah

Everytime you feel like you cannot go on
You feel so lost
That your so alone
All you is see is night
And darkness all around
You feel so helpless
You can`t see which way to go
Don`t despair and never loose hope
Cause Allah is always by your side

Insya Allah, Insya Allah you`ll find your way

Everytime you can make one more mistake
You feel you can`t repent
And that its way too late
Your`re so confused,wrong decisions you have made
Haunt your mind and your heart is full of shame


Don`t despair and never loose hope
Cause Allah is always by your side
Insya Allah, Insya Allah you`ll find your way
Insya Allah, Insya Allah you`ll find your way

Turn to Allah
He`s never far away
Put your trust in Him
Raise your hands and pray
OOO Ya Allah
Guide my steps don`t let me go astray
You`re the only one that showed me the way,
Showed me the way

Insya Allah, Insya Allah we`ll find the way..



-oOo-


Segala keadaan lambat laun pasti akan berubah dengan izin-Nya, maka jangan pernah merasa sendirian, sebab Allah Maha Melihat segala usaha dan upaya yang kita lakukan, dan membalas segalanya sebesar usaha yang kita lakukan. Bukankah Allah tidak pernah mendzalimi hamba - hamba Nya ? Bukankah Allah tiada pernah menyalahi janji-Nya ?
Percayalaah, Insya Allah ada jalan..

"Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Maka apabila engkau telah selesai (dari satu urusan), tetaplah bekerja keras (untuk urusan yang lain). Dan hanya kepada Tuhanmulah engkau bertawakal (QS. Al-Insyiraah : 6-8)







Medan, 22 Juli 2011

ditengah rasa penat dan sesak yang menderu dalam melewati masa-masa skripsi, semoga Allah senantiasa memberikan jalan terbaik dalam menyelesaikannya
Insya Allah, Ada jalan..

-Salam Pena, Ticka . y -

Sabtu, 16 Juli 2011

Episode Pulang Kampung

Sudah lumayan lama saya tak berlabuh di blog ini, kali ini bukanlah karena sok sibuk seperti biasa, hehe melainkan karena kehidupan kampus yang sudah memasuki zona liburan (meskipun seharusnya jatah libur itu tidak pernah ada untuk mereka yang mengaku-ngaku mahasiswa tingkat akhir yang juga katanya sibuk dengan tugas akhir pula, hehe). Seperti biasa, di zona liburan ini, banyak teman-teman kampus, yang kesehariannya tinggal di kos-kosan, kini kembali ke kampung halaman, hmm, bisa dibilang mungkin salah satu alasannya adalah perbaikan gizi, wkekke. 

Nah, bagaimana dengan saya ? saya harus pulang kemana?? saya kan tidak punya kampuung?? 
hahha, meskipun sebagian teman -teman kampus saya berpendapat bahwa setiap hari saya pulang kampung (maklum jarak dari rumah - kampus hampir menyita waktu dan tenaga extra, hehe), tapi sungguh saya belum pernah merasakan pulang kampung yang sebenarnya :(. benarkah saya tidak punya kampung ?? (*sok mendramatisir :D)

Rabu, 15 Juni 2011

album tua untuk 先生

Bermula dari sebuah keinginan mengabadikan setiap moment dan ciptaan Sang Maha Karya yang tak terbilang luar biasa hingga aku tak mampu berucap kecuali "SubhanAllah.. Fa biayyi alaa-i rabbikuma tukadziban ?"


Ini adalah beberapa hasil jepretan amatirku beberapa tahun yang lalu, ah bukan bermaksud untuk show up (loh??) tapi hanya ingin mengabadikan beberapa momen dalam gambar. Tentu sajalah foto - foto ini tak layak disebut seni, tujuannya hanya ingin sejenak mengingat seorang sensei yang telah mengenalkanku pada seni ini, seni yang ia katakan fotografi. :)


Adalah dia, seorang sensei yang bermurah hati memperkenalkanku dalam dunia fotografi, meskipun berulang kali ia katakan padaku bahwa fotografi hanya ia jadikan hobby dalam hidupnya. Namun, rasanya tak berlebihan jika kupanggil ia sensei karena sering sekali aku takjub oleh hasil  jepretannya. Makanya tak heran jika dahulu, tak jarang ia mengkomentari jepretanku  "hah..! apa-apaan ini?  inikah yang kau sebut makro?" tentu saja aku hanya nyengir, belum lagi ketika ia mengatakan " hah, dasar amateur..! fokus pecah..". meskipun demikian pernah juga ia mengatakan hal - hal yang enak didengar seperti "ini lumayan, momentnya pas",  ya meskipun aku tahu pastilah itu hanya bersifat menghibur (tuing2).


sensei, begitulah gelar yang kuberikan kepadanya meskipun tanpa upacara resmi, hehe. Dulu, tak jarang ia bercerita kepadaku tentang ketertarikannya kepada fotografi, dengan senang hatinya pula ia mengajariku bagaimana teknik - teknik yang ia ketahui, disana, di perpustakaan tua itu, ia berikan wejangan singkat dari sebuah buku fotografi. Aku yang pada saat itu hanya terangguk - angguk dibarengi tidak mengerti, akhirnya tenggelam bersama ketertarikannya pada seni itu, aku yang dahulu hanya berada ditingkat penikmat fotografi, akhirnya mulai tak tahu diri menjepret - jepret kamera itu ke segala objek, hehe.


sensei, begitulah kupanggil ia ketika pertama kali kulihat hasil jepretan pertamanya pada sebuah rumput biasa yang kemudian ia sulap menjadi seperti bunga istimewa, kemudian ia katakan "ini teknik makro..!". whoooaa, sat itu aku hanya takjub dalam hati. Ah, aku tahu kalau dia pastilah sangat prihatin melihat hasil - hasil jepretanku, namun ia berbaik hati menyemangatiku, katanya "  hei, yang terpenting adalah orang yang memegang kamera, bukan seberapa bagus kamera yang dipakainya, karena sebuah foto adalah kesatuan dari hatimu, perasaanmu, pikiran dan imajinasimu ". Ah sensei, kau memang  membuatku selalu bersemangat :).


Baiklah, tidak usah terlalu banyak intro, inilah foto - foto yang sedari tadi aku gembor -gemborkan, maafkanlah aku jika ternyata setelah melihat foto -foto ini ternyata anda menderita demam berkepanjangan, hehe.




Hanya rumput












The last








hanya ada aku
mencoba bertahan


Ah, demikian saja lah foto - foto amateur hasil jepretanku kala itu, satu hal yang ku tahu bahwa " sebuah gambar dapat bercerita lebih banyak dari kata yang terbilang" :). Terimakasi sensei, telah mengenalkanku pada seni ini..





selasa, sebelum dhuha
- salam pena, ticka y-

Selasa, 24 Mei 2011

Kematian Hati

Banyak orang tertawa tanpa (mau) menyadari sang maut sedang mengintainya. Banyak orang cepat datang ke shaf shalat layaknya orang yang amat merindukan kekasih. Sayang ternyata ia datang tergesa-gesa hanya agar dapat segera pergi. Seperti penagih hutang yang kejam ia perlakukan tuhannya. Dari jahil engkau disuruh berilmu dan tak ada izin untuk berhenti hanya pada ilmu. Engkau dituntut beramal dengan ilmu yang Allah berikan. Tanpa itu alangkah besar kemurkaan Allah atasmu.
 
Tersanjungkah engkau yang pandai bercakap tentang keheningan senyap ditingkah rintih istighfar, kecupak air wudhu di dingin malam, lapar perut karena shaum atau kedalaman munajat dalam rakaat-rakaat panjang.

Tersanjungkah engkau dengan licin lidahmu bertutur, sementara dalam hatimu tak ada apa-apa. Kau kunyah mitos pemberian masyarakat dan sangka baik orang-orang berhati jernih, bahwa engkau adalah seorang saleh, alim, abid lagi mujahid, lalu puas meyakini itu tanpa rasa ngeri.

As-shiddiq Abu Bakar Ra. Selalu gemetar saat dipuji orang. "Ya ALLAH, jadikan diriku lebih baik daripada sangkaan mereka, janganlah Engkau hukum aku karena ucapan mereka dan ampunilah daku lantaran ketidaktahuan mereka," ucapnya lirih.

Ada orang bekerja keras dengan mengorbankan begitu banyak harta dan dana, lalu ia lupakan semua itu dan tak pernah mengenangnya lagi. Ada orang beramal besar dan selalu mengingat-ingatnya, bahkan sebagian menyebut-nyebutnya kepada khalayak. Ada orang beramal sedikit dan mengklaim amalnya sangat banyak. Dan ada orang yang sama sekali tak pernah beramal, lalu merasa banyak amal dan menyalahkan banyak orang karena kekurangan atau ketidaksesuaian amal mereka dengan ambisi pribadinya, atau tidak mau kalah atau tertinggal di belakang para pejuang. Mereka telah menukar kerja dan kata.

Dimana kau letakkan dirimu? Saat kecil, engkau begitu takut gelap, suara dan segala yang asing. Begitu kerap engkau bergetar dan takut, sampai sesudah pengalaman dan ilmu makin bertambah, engkaupun berani tampil di depan seorang kaisar tanpa rasa gentar. Telah berapa hari engkau hidup dalam lumpur yang membunuh hatimu sehingga getarannya tak terasa lagi saat obyek ma'siat menggodamu dan engkau menikmatinya? Malu kepada Allah dan hati nurani tak ada lagi.

Malam-malam berharga berlalu tanpa satu rakaatpun kau kerjakan. Usia berkurang banyak tanpa jenjang kedewasaan ruhani bertambah tinggi. Rasa malu kepada Allah, dimana kau kubur dia?

Di luar sana rasa malu tak punya harga. Mereka jual diri secara terbuka lewat layar kaca, sampul majalah atau bahkan melalui penawaran langsung. 228.000 remaja mengidap putau. Dari 1500 responden usia SMP & SMU 25% mengaku telah berzina dan hampir separuhnya setuju remaja berhubungan seks di luar nikah asal jangan perkosaan, walaupun pada saatnya mereka memperkosa.


 Dan masyarakat memanjakan mereka, karena "mereka masih d ibawah usia." Mungkin engkau mulai berfikir, "Jamaklah, bila aku main mata dengan aktifis perempuan --bila engkau laki-laki atau sebaliknya (akhi dan ukhti)-- dicelah-celah rapat atau berdialog dalam jarak sangat dekat atau bertelepon dengan menambah waktu sekedar melepas kejenuhan dengan canda jarak jauh." Betapa jamaknya 'dosa kecil' itu dalam hatimu. Kemana getarannya yang gelisah dan terluka dulu, saat "TV Thaghut" menyiarkan segala "kesombongan jahiliyah dan maksiat?"  Saat engkau mau muntah melihat laki-laki berpakaian perempuan, karena kau sangat percaya kepada ustadzmu yang mengatakan, "Jika Allah melaknat laki-laki berbusana perempuan dan perempuan berpakaian laki-laki, apa tertawa riang menonton akting mereka tidak dilaknat?" Ataukah taqwa berlaku saat berkumpul bersama dan yang paling tinggi berteriak "Ini tidak islami" berarti ia paling islami, lalu sesudah itu urusan kesendirian tingga llah antara engkau dengan lamunanmu, tak ada Allah disana?

Sekarang kau telah jadi kader hebat. Tidak lagi malu-malu tampil. Justru engkau sangat malu untuk menahan tanganmu dari jabatan tangan lembut lawan jenismu yang muda dan segar. Kau yang tak mampu melawan berontak hatimu untuk tidak makan berdiri di tengah suatu resepsi mewah. Berbisiklah syaithanmu: "Jika kau duduk di lantai atau di kursi malam ini citra da'wah akan ternoda." Seakan engkau-lah pemilik da'wah ini.

Lupakah kau, jika bidikanmu ke sasaran tembak meleset 1 milimeter, maka pada jarak 300 meter dia tidak melenceng 1 milimeter. Begitu jauhnya inhiraf di kalangan awam, tak lain karena para elitenya telah salah melangkah lebih dulu. Siapa yang mau menghormati ummat yang "kiayi"-nya membayar beberapa ratus ribu kepada seorang perempuan yang beberapa menit sebelumnya ia setubuhi, lalu dengan enteng mengatakan, "Itu maharku, Allah waliku dan malaikat itu saksiku," dan sesudah itu segalanya selesai, berlalu tanpa rasa bersalah? Siapa yang akan memandang ummat yang da'inya berpose lekat dengan seorang perempuan muda artis penyanyi lalu mengatakan, "Ini anakku, karena kedudukan guru dalam Islam seperti ayah, bahkan lebih dekat lagi."

Akankah engkau juga menambah barisan kebingungan ummat lalu mendaftar diri sebagai 'alimullisan (alim di lidah)? Apa kau fikir sesudah semua kedangkalan ini kau masih aman dari kemungkinan jatuh ke lembah yang sama? Apa beda seorang remaja yang menzinai teman sekolahnya dengan seorang alim yang merayu rekan perempuan dalam organisasinya? Kau andalkan penghormatan masyarakat awam karena statusmu lalu kau serang maksiat masyarakat awam? Bukankah ini mengkomersilkan kekurangan masyarakat? Koruptor macam apa engkau ini? Semoga ini tak terjadi pada dirimu, karena kafilah yang pernah berlalu tak sunyi dari peruntuh bangunan yang dibina dengan susah payah.

Pernah kau lihat sepasang mami dan papi dengan anak remaja mereka. Tengoklah langkah mereka di mal. Betapa besar sumbangan mereka kepada Amerika dan Zionis dengan banyak-banyak mengkonsumsi produk makanan mereka, semata-mata karena nuansa "westernnya." Engkau akan menjadi faqih pedebat yang tangguh saat engkau tenggak minuman halal itu, dengan perasaan "lihatlah, betapa Amerikanya aku". Memang, soalnya bukan Amerika atau bukan Amerika, melainkan apakah engkau punya harga diri.

Mahatma Ghandi memimpin perjuangan kemerdekaan India dengan kain tenunan bangsa sendiri atau terompah lokal yang tak bermerk. Namun setiap ia menoleh kekanan, maka 300 juta rakyat India menoleh ke kanan. Bila ia tidur di rel kereta api, maka 300 juta rakyat India akan ikut tidur disana. Bila ia minta bangsanya mendongakkan kepala dengan bangga, maka 300 juta bangsa India akan tegak, walaupun tulang punggung mereka tak kuat lagi berdiri karena lapar dan kurang gizi.

Kini datang "pemimpin" ummat, ingin mengatrol harga diri dan gengsi ummat dengan pameran mobil dan rumah mewah serta hidup di tengah gemerlap kehidupan selebritis. Saat fatwa digenderangkan, ummat tak lagi punya kemauan untuk mendengar. "Engkau adalah penyanyi bayaranku dengan uang yang kukumpulkan susah payah. Bila aku bosan aku bisa panggil penyanyi lain yang kicaunya lebih memenuhi seleraku?"


 

Oleh : (Alm) Ustadz Rahmat Abdullah - semoga Allah merahmatinya

Jumat, 29 April 2011

Sabang Island : Never ending story *part 01

Ini sih cerita liburanku tahun lalu yang belum sempat di posting, sebenernya sudah lama pengen posting tapi gak sempet -sempet (*alasaaan lama, wkekke). ya sudah hari ini aku berbaik hati meluangkan cerita tidak pentingku kepada semuanya yaa. Beneran, ini serius tanpa paksaan dan juga tanpa imbalan, oh betapa baiknya aku ini, haha *preet.

***
adalah kisah dua orang bolang (baca : bocah ilang, hehe) yang  dengan sengaja mendamparkankan diri disebuah tempat yang belum pernah dijelajahi sebelumnya, yaitu di ujung pulau sumatera, sabang namanya (esseeeh, tuit-tuit). Perjalanan dimulai dari sini..


12 juli 2010
 


Setelah berberes - beres dan yakin bahwa semua pelengkapan telah masuk kedalam ransel termasuk bekal makanan yang memang kami masak dari rumah (baca : kosan ocek), maka kami langsung bergerak dengan matic merah yang belum pernah dimandikan itu menuju pelabuhan ulee lhue - banda aceh. Perjalanan menuju Pulau sabang bisa ditempuh dengan 3 cara, yang pertama dengan kapal cepat, kelebihannya kalo kita naek kapal ini , yah namanya juga kapal cepat ya pasti lebih cepat lah nyampe sabang, namun sebagai pertimbangan biayanya juga relatif mahal untuk ukuran ehem2 *berbisik* mahasiswa, haha. Lagipula kalo naek kapal cepat menurutku kurang bisa menikmati view lautnya, bentar aja  udah nyampe aja gituu, makanya kami gak milih naek kapal ini, *bisa aja kalau suruh ngeless, haha*. Yang kedua dengan kapal ferry, kelebihannya sudah pasti lah harganyanya lebih murah dari kapal cepat, dan juga dapat menikmati view lautnya lebih daleemmmm gituu, dan kapal ferry ini adalah kapal yang digunakan untuk mengangkut penumpang beserta kenderaan-kenderaannya, termasuk motor matic yang belum pernah dimandikan itu juga, hehe. Dan  pilihan terakhir yaitu berenang  (hee??), karena si ocek tidak bisa berenang dan aku juga pun ogah untuk berenang maka lupakan cara ini, hehe.

Perjalanan dari pelabuhan ulee lhue menuju ke pulau sabang menghabiskan waktu sekitar 2 jam. syurkurlah, pemandangan diluar begitu menakjubkan, satu hal lagi yang menambah kekagumanku saat berada diatas kapal melintasi laut dengan degradasi warna yang memukau itu, ada sekawanan lumba - lumba yang dengan sengaja beratraksi memamerkan kepiawaiannya untuk menghibur kami dengan ikhlas, ini beneran loh, buktinya mereka tidak meminta saweran setelahnya, hehe. 


Oh ya, sebelumnya kuberitahu kalian, sebenarnya bukan hanya aku dan ocek yang akan berlibur di pulau sabang nanti, aku juga sudah janjian dengan teman-teman kampusku yang mengaku -ngaku  "Si Petuang Sumut", siapa mereka ?? ah itu tidak penting lah sepertinya kan? kan? kan? hehe, nanti sajalah dibahas yang jelas mereka sudah 2 hari berada diperjalanan dari medan menuju banda aceh menggunakan sepeda motornya, ckck, emang dasar nekad mereka. 





setelah 2 jam, Alhamdulillah akhirnya kami bisa menghirup udara sabang. Dan Wow, tahukah kalian, betapa kerennya tempat ini, disepanjang jalan dari pelabuhan menuju kearah kota banyak ditanami bunga - bunga berwarna pink bak sakura yang ada di jepang *hahaha,  aku sadar betapa kampungannya gaya kami sampai-sampai menyangka itu bunga sakura*. begitu melihat disekelilingnya adalah laut yang indddah, maka mulut kamipun tak dapat terkatup bak ikan mas koki yang kurang oksigen, hehe. 


***

Nah, setelah tiba disabang kami segera menghubungi kak lisa, kakak kosan ocek yang sekarang kerja di dinas kesehatan pelabuhan - sabang, tujuannya hanya satu tidak lain dan tidak bukan adalah untuk menumpang dipenginapannya :D (* saat seperti ini menumpang adalah alternatif yang sangat menjanjikan untuk menekan biaya pengeluaran sewaktu diperjalanan, wkekeke). Alhamdulillah kak lisa dengan senang hati memberikan kunci kamarnya kepada kami, berhubung beliau sedang ada kerja diluar kota untuk beberapa hari, ini yang namanya rezeki, hehe. Segeralah kami  menjemput kunci kamar yang dititipkan kpada temen satu kamarnya, setelah mendapat petunjuk dari temen kak lisa dimana lokasi mes nya, kami langsung menuju TKP, tapi  ternyata oh ternyata, tempatnya tak semudah yang kami kira untuk menemukannya, alhasil kamipun sempat salah ketok mes orang lain, *gdubraaakk.


Kota Sabang itu memang kecil, tapi begitu tenang menurutku, kerenlah, lokasinya bener-bener gue banget, *mulai lebai, hahha. Satu hal yang perlu diperhatikan ketika berkeliling -keliling dikota sabangnya, kita harus rajin melihat rambu - rambu yang dipajang dijalan. karena banyak jalan satu arah disana. Karena ini juga pengalaman pahit kami , salah jalan melawan arah, hhh..hampiiir saja *ngos-ngosan. Tapi warga disana sepertinya sudah maklum melihat orang yang melawan arah, dengan gampang mereka memastikan bahwa sipelanggar pastilah wisatawan *ceile, berarti kami wisatawan donk ya? kan ? kan?*. Rasanya seperti tak mau melewati watu begitu saja di pulau ini, setelah menunaikan kewajiban ashar, kamipun berkeliling - keliling  untuk menikmati senja perdana di pulau sabang ini. Lokasi pertama adalah pantai tapak gajah, lokasinya tidak jauh dari mes kami, entahlah kenapa pantai ini bernama tapak gajah, bukan tapak kuda atau tapak ubur - ubur gituu (memang ada??), tapi yang jelas tidak ada tapak kaki gajah disitu apalagi belalainya, hehe.






Menjelang malam, kami pun masih tetap berkeliling - keliling *maklum lagi kemaruk* sholat isya di mesjid agung, sampai akhirnya secara disengaja kami menemukan  rumah salah seorang yang diaku-akui si ocek sebagai saudara di sabang *oh biarlaah*. Dan Tahukah kalian itu artinya apa?? itu artinya kami akan dapat makan malam gratis donk, haha *kejahatan terencana*. Wah, apa kabarnya temen-temen kampusku yaa? akhirnya ku telp mereka, ternyata mereka masih istirahat dijalan, katanya sih Insya Allah besok siang bisa sampe ke banda dan langsung menuju pelabuhan. oh mudah - mudahan mereka tepat waktu dan selamat sampai tujuan, amiin :). 

Oh ya, aku ingat waktu kami masih di kapal tadi siang, kami sempat ngobrol dengan seorang kakak, dia bilang kalau di sabang motor atau kenderaan letakkan aja diluar, insya Allah gak akan hilang, wah *glek* tentu saja kami kaget, masa iya gak ilang, di rumah aja biar kata udah digembok dan ditambah jangkar kapal sekalipun, namanya pencuri tetep aja masih doyang mengintai. Tentu saja kami ragu untuk melakukannya, alhasil jadilah malam itu motor matic yang memang belum sempet dimandiin itu kami dorong - dorong masuk kedalam kamar, dan tahukah kalian teman - teman, begitu teman sekamar kak lisa pulang, dia ketawa melihat perbuatan kami, dengan santainya dia bilang 

sikakak : "ngapain dek kalian bawa masuk kekamar segala?? letakkan aja diluar bila perlu tinggalkan aja kuncinya disitu.." tersenyum manis.

kami : "hah?? masa gak ilang kak?? " saling bertatapan bego'

sikakak : "emang mau dibawa lari kemana sama malingnya? palingan dia bakal muter-muter disini aja, kecuali dia mau terjun kelaut" kali ini sambil menawah tawa.

kami: "....." nyengir. hah, betapa lugu (baca : bego) kami, ya iyalah, sabang itu kan sebuah pulau yang dikelilingi laut. hadeh -hadeeh kenapa gak terpikir sebelumya yaa.. -_-"


***

Keesokkan harinya..


Selagi menunggu "Petualang Sumut" sampai di sabang, tak mungkin rasanya kaki kami ini berdiam diri saja. aku dan ocek kembali berpetualang menuju TeKaPe lain yang sudah di list sewaktu berada dirumah sodaranya tadi malem, tentu saja tempat yang masuk list adalah tempat yang di rekomendasikan oleh mak tlt dan suaminya yang baik hati itu :). TeKaPe pertama adalah anoi itam. anoi itu artinya pasir dan itam itu ya hitaam :D. berarti anoi itam itu berarti pasir hitam.






Ternyata benar saudara - saudara, pasir dipantai ini memang hitam, sama seperti bajuku yang serba hitam, padahal saat itu hari sedang cerah - cerahnya, jadilah bajuku itu menyerap panaassss, nasib :(. Belum lagi si ocek yang tidak kalah gak nyambungnya, dia memakai gamis ungu  khas ibu - ibu wiritan, hohoho. 
Setelah puas menikmati petualangan di anoi itam, tiba - tiba hp ku berdering, ternyata telp dari temen kampusku, dengan sangat menyesal mereka bilang mereka gagal nyampe banda siang hari itu karena motor salah satu dari mereka pake acara ngambek segala, jadilah tak terkejar lagi jadwal penyebrangan ferry hari itu juga, jadi harus nunggu besok. tak lama setelah kututup telp dari mereka, hp ku kembali berdering, kali ini telp datang dari kakakku, ah, kabar burbuknya aku sudah harus sampe ke medan hari kamis karena mereka (keluargaku) mau pergi liburan juga ke padang lanjut ke jawa, hiks :(.

Jadilah hari itu juga, tanpa pikir panjang lebar tinggi dan luas aku memutuskan untuk pergi ke km 0 tanpa menunggu temen - temen kampusku lagi, akhirnya kami hanya berdua saja menuju km 0, karena besok kami  sudah harus kembali ke banda dan rasanya tidak afdhol gituu kalo sudah ke sabang tapi tak mengisi absen ke km 0, hehe.

 -oOo-

Perjalanan menuju Km 0..



Setelah menerima dua kabar yang tak mengenakkan itu, kami berdua langsung menuju TeKaPe selanjutnya, yaitu Km 0, sebuah titik 0 dari kepulauan Indonesia. Jujur kami tidak tahu bagaimana sebenarnya kondisi jalan menuju kesana. tapi kami tetap memberanikan diri menuju kesana, *jiwa petualang mulai terpanggil euy, preet..!*.
Tahukah kalian, bagaimana jalan disana? ya benar, jalannya bagus pisan, aspalnya benar - benar mulus sepanjang jalan, tidak heran memang kalau jalur ini sering dipakai untuk touring genk motor. Tapi tahukah juga kalian kalau jalanan pada saat itu benar - benar sunyi ?? disebelah kanan adalah tebing dan hutan - hutan dan disebelah kiri adalah laut, sedangkan jalanan menanjak naik dan tikungan nya pun lumayan tajam, aku yakin sekali dengan kemampuan belok si ocek dalam mengendarai motor, bisa - bisa habislah nasib kami nyebur di laut bebas, haha. Itulah sebabnya dia dengan tahu diri memilih untuk dibonceng saja. Sunyii.. benar-benar sunyi kala itu, entahlah - mungkin karena memang saat itu bukan akhir pekan atau memang selalu seperti ini-, sempat kecut juga nyali ini, sampai - sampai kalau berpapasan dengan manusia rasanya bahagiaaaa bangeet. 

Sempat juga terfikir untuk berbalik arah, tapi oh sudah kepalang tanggung karena sudah berjalan sekitar 10 km lebih, tapi didalam hati sudah mulai dag dig dug karena bensin motor ternyata sudah sangat minim, sedang tak mungkin rasanya ada SPBU di hutan seperti ini. tiba - tiba aku teringat kata - kata seorang temen yang sudah pernah melewati jalan ini.

aku : "cek, aku ingat temen kampusku pernah bilang sesuatu sama ku" agak gementar
ocek : "bilang apaan ??" mulai tegang
aku : "dia bilang kalo disini banyak monyet dan monyet nya itu tidak bermoral, semakin diusir semakin ngejar katanya.." tiba - tiba kaget melihat pemandangan didepan
      : "cek.. cekk.. lihat itu..!! 
ocek : "iihh.. kek mana nih tik" pucat pasih sambil komat - kamit baca doa
Belum sempat mulut ini selesai ngomong kalo disini banyak monyet, eh tau-taunya tuh - monyet udah pada nongkrong didepan jalanan, rame - rame keroyokan kayak tukang palak di pasar. Gugup bukan maen kami waktu itu, mana bensin udah tinggal nunggu waktunya aja, kalau sempat mogok disaat saat seperti ini, matilah kami. pasti akan sangat tidak menyenangkan jika terdengan kabar " dua orang mahasiswi ditemukan babak belur di keroyok monyet hutan saat hendak menyambangi km 0 indonesia". Appaaa kata duniaaaaaa????

Berbekal bissmillah, ku tarik gas motornya, tak kupedulikan monyet - monyet itu sok akrab memanggil - manggil kami, kutarik semakin kencaaang hingga para monyet - monyet yang tak berperilaku hewani itu pun lari terbirit - birit karena takut jadi korban tabrak lari -maklum kantor polisi juga jauh dari situ, sehingga mereka tak bisa melakukan pengaduan, haha-. Akhirnya kami berhasil melewati rintangan pertama, Hanya saja kami tetap belum mendapatkan tempat penjualan bensin yang dapat melepaskan dahaga si matic merah yang belum pernah dimandiin itu, hehe.

Kami terus memacu gas matic kami hingga sampai di pantai iboih, pantai yang seharusnya sangat indah, namun karena kondisi kami dalam keadaan dilema antara lanjut atau balik, dan under preasure karena bensin nyaris habis, maka kami hanya berekspresi datar menatap tempat seindah ini.


aku : "SubhanAllah, indah ya cek pantainya" menatap kosong kedepan tanpa ekspressi
ocek : "iya indah"  dengan ekspressi yang sangat datarrr



Setelah merenung cukup lama, maka kami memutuskan untuk tetap melanjutkan perjalanan ke tugu km 0, sambil mencari - cari siapa tahu ada orang yang menjual bensin eceran. Alhamdulillah ternyata tak begitu jauh dari tempat kami istirahat tadi, langsung kami isi full tank motor kami, sambil bertanya pada ibu penjual bensin

kami : "Bu, kira - kira masih jauh gak tugu km 0 dari sini?"
ibu penjual bensin : "Wah masih 12 km lagi dek"
kami : *Glek sama aja jaraknya dengan yang udah kami tempuh
 

Ditengah - tengah percakapan kami, tiba - tiba seorang pemuda nyeletuk ikut nimbrung seolah - olah dia mengira kalau kami ini sedang bergosip dengan ibu - ibu penjual bensin itu.

abang - abang : "ngapain kalian berdua kesana sendiri? bahaya tauuk.."
kami : *saling bertatapan
abang - abang : " tahu gak disana itu jalannya serem dan banyak srigala "
kami : *glek, mendadak teringat kejadian moyet tadi
abang - abang : "hahahhaa" bercanda ding..
kami : "Bang.. baaang, sekarang ini jangankan srigala, melihat kambing aja rasanya udah serem tauuk..! *mengutuk dalam hati
abang - abang :  "ya udah, hati - hati aja kalian naek motornya ya, disana jalannya agak licin " *dengan wajah tanpa dosa

Lagi - lagi kami diterpa dilema tak berkesudahan seperti sedang mengikuti kuis "who wants to be a millioner" antara apakah tetep lanjut atau memilih mundur, sayangnya kami tidak diberikan pilihan bantuan pada saat itu, hiks :(.
 

-oOo-

Nah, bagaimana kelanjutan cerita dua bolang (baca : bocah ilang) ini ??
Apakah mereka tetap melanjutkan perjalanan yang menegangkan bak tersengat listrik rbuan volt ???
ataukah mereka harus rela mengubur dalam - dalam keinginan mereka menapaki tugu km 0 setelah setengah perjalanan terlalui ??? *sok misterius*
 
So, tunggu jawabannya di episode berikutnya, karena saya sudah mengantuk malam ini, hehe.. :D



to be continued..








medan, 29 April 2011
menguap berkali-kali dengan kondisi mata 5 watt
-salam pena, ticka.y-